Hallo Anantha

Dua Gentong Air

May 7, 2008 · 12 Comments

Setelah beberapa vakum dari kegiatan menulis, kali ini saya ingin menulis mengenai sebuah cerita. Cerita ini saya dapat ketika saya mengikuti suatu acara.

Pada sebuah desa yang terletak pada dataran tinggi, hidup seorang pembawa gentong air. Desa tersebut kaya sekali dengan sumber mata air. Desa - desa sekitarnya selalu membeli air dari desa tersebut. Alhasil pembawa gentong air tersebut selalu sibuk dengan kegiatannya menggendong gentong air kepunyaanya. Sayang beliau hanya memiliki dua gentong air saja. Gentong air yang tidak begitu besar namun cukup untuk membawa air ke desa - desa lainnya. Kedua gentong air ini pun selalu setia pada majikannya. Satu dipikul di kanan, dan yang satu lagi dipikul di kiri. Mereka selalu senang ketika melewati tebing dan jurang yang dilewati pembawa gentong air dari satu desa ke desa yang lainnya.

Suatu ketika salah satu gentong tersebut tak sengaja jatuh dan retak. Untungnya gentong air tersebut masih bisa digunakan walaupun hanya sanggup membawa 3/4 kapasitas biasanya. Itupun belum termasuk yang menetes karena ada retakan kecil pada bagian bawah gentong yang membuat air menetes pelan. Gentong air yang retak tersebut merasa rendah diri. Sering kali ia menyalahkan diri sendiri karena tidak dapat mengangkut air yang banyak bagi tuannya. Gentong yang tak retakpun selalu menghibur gentong yang retak tersebut, katanya “tenang saja saudaraku, aku akan membawakan air yang cukup bagi tuan kita” . Tetapi tetap saja gentong yang retak tersebut merasa sedih. Pembawa gentong pun tak ayal juga sering memberi penghiburan bagi gentong yang retak tersebut. Setiap perjalanan berangkat , ia selalu dipikul di sisi kanan dengan air yang hanya 3/4 isi, bahkan sering tinggal 1/2 nya saja ketika sampai tujuan. Tak jarang pula gentong tersebut sedih meratapi nasibnya yang retak.

Beberapa bulan kegiatan tuan pembawa gentong air tetap setia menggunakan kedua gentong tersebut, walaupun yang satu retak. Pagi hari mereka berangkat ke desa lain dengan gentong yang retak di sisi kanan. Dan pulang dengan membawa penghasilan untuk keluarga pembawa gentong tersebut. Hingga pada suatu hari, ketika dalam perjalanan pulang pembawa gentong merasa lelah. Ia pun terduduk dan menempatkan kedua gentong di depannya sambil menghadap ke sisi kiri perjalanan pulang. Ia pun berkata :

Aku memikulmu yang retak di sisi kanan pada perjalanan berangkat. Dan memikulmu pada sisi kiri ketika perjalanan pulang. Lihatlah ( sisi kanan perjalanan berangkat atau sisi kiri perjalanan pulang ) , rerumputan dan bunga - bunga ini tumbuh subur dan indah. Inilah karyamu. Lewat tetesan air yang engkau teteskan saat perjalanan berangkat. Tanpamu, rerumputan dan bunga - bunga ini tidak akan tumbuh subur.

Kedua gentong tersebutpun tersenyum dan menyadari hal itu.

Setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing - masing. Terkadang kita terlalu sombong akan kelebihan kita. Tak jarang pula kita terlalu rendah diri akan kekurangan kita. Kekurangan dan kelebihan selalu ada dan menghiasi kehidupan manusia. ( BPSK )

Categories: Crita Singkat · INFO UMUM · Opini
Tagged: , ,

12 responses so far ↓

  • Tante Tut // May 7, 2008 at 4:01 pm

    Hallo I Made Anantha Setiawan,
    wah , panjang banget namanya. Bagaimana harus panggil saja singkatnya? I? Atau Made? Anantha? Atau Setiawan?

    Saya merasa diberkati dengan artikel ini. Si gentong bocor ingin memberi yang terbaik dalam segala kekurangannya, dan yang berlebih dengan sabar memberikan penghiburannya.
    Diatas semuanya itu tuan mereka memiliki maksud yang lain lagi, selain air itu untuk orang lain, dalam ketidak sempurnaannya ia juga memberkati tanaman disekitarnya.

    Sungguh luar biasa! Tulisan yang benar-benar indah! Terus menulis Made!
    GBU.

  • Nanta // May 7, 2008 at 4:06 pm

    @ Tante Tut
    Terima kasih mbak

  • elyswelt // May 8, 2008 at 12:19 am

    alinea terakhir bagus sekali

  • hevi.fauzan // May 8, 2008 at 1:30 am

    salam kenal,
    I like this part :
    “Inilah karyamu. Lewat tetesan air yang engkau teteskan saat perjalanan berangkat. Tanpamu, rerumputan dan bunga - bunga ini tidak akan tumbuh subur.”

    Gak sadar, bahwa kekurangan justru menjadi hal positif bagi yang lain.
    thx.

  • GR // May 8, 2008 at 6:11 am

    Menggugah!
    Ternyata kelemahan itu bisa jadi kekuatan ya…

    Salam Kenal :)

  • Ade // May 8, 2008 at 9:36 pm

    Wah… tampaknya Mas Nantha ini akan menjadi generesi penerus Gede Prama. Kata-katanya menyejukkan.

  • deniar // May 9, 2008 at 5:46 am

    Wah subhanallah…. ceritanya menyejukkan hati…. (want more..)

  • dheend // May 9, 2008 at 11:12 am

    wahhh,,,ceritanya bagusss !!!
    salam kenal..
    eh,, btw..ini made mana si? sepertinya kenal..hohoho..
    tukeran link yuk :)

  • Nanta // May 10, 2008 at 2:29 pm

    @elyswelt
    o iya ?? makasih.. :D

    @hevy.fauzan n GR
    salam kenal juga bang

    @Ade
    sopo iku de ??

    @dheend
    iya, tapi belum kenalan :D

  • Ari Kuncoro // May 11, 2008 at 5:54 am

    wah, dadi romo ae, kowe. wis pantes…. hehe.

  • Ade // May 11, 2008 at 8:43 pm

    http://wordpress.com/tag/gede-prama/
    Wong Mbali Dhe.. senengane mbake sing mbiyen.

  • rifer // May 17, 2008 at 8:58 am

    serem kali kata-katanya met

Leave a Comment